Senin, 10 September 2012

uang tak menjanjikan kenikmatan

      Satu warna yang paling dinanti oleh kami yaitu munculnya warna merah pada lampu lalu lintas. Disaat itulah kami mulai unjukkan kemampuan kami untuk bernyanyi dan mengharapkan beberapa uang rupiah dari pengemudi. Rendi “ si lidah jamblang “ yang setiap berbicara selalu tak fikir benar atau salah dan tak peduli orang akan berpendapat apa, ia adalah gitaris kami. Kami pun memiliki drummer yaitu Wawan “si pujangga cinta “ yang setiap saat ia berbicara menggunakan kata-kata sastra dan ia pula yg menciptakan lagu-lagu cinta. Sementara saya bersama Gea adalah vokalis duet band ini. Gea adalah satu-satunya wanita di band kami, namun kami masih sangat meragukan ia wanita atau seorang lelaki. Bagaimana tidak, Gea sering sekali perang bersama preman-preman seram di jalanan. Aku saja yang lelaki asli tak cukup berani untuk melawan atau menolak jika diminta uang oleh preman-preman itu, namun Gea sungguh tak peduli seberapa kuat atau sangarnya preman yang dihadapinya.  
    Tengah asyik kami bermain seni di jalanan dengan lampu merah yang masih menyala dan belum berganti, tiba-tiba saja ada seseorang lelaki tua yang mendorong kami hingga terjatuh di aspal yang sangat panas itu. Tak hanya lelaki itu saja yang membuat kami terjatuh, dalam hitungan sepuluh detik saat kami mencoba berdiri ternyata kami jatuh kembali karna orang-orang banyak yang mengejar lelaki itu. Gea ingin menghajar orang-orang itu, namun aku menghentikan niatnya. Bagiku yang terpenting saat ini bukanlah orang-orang itu, namun memikirkan Rendi yang berbadan kecil itu berlumuran darah akibat terinjak-injak massa. Kami membawanya ke pinggir jalan dan disandarkannya badan Rendi pada pohon besar.
“lu kaga napa-napa kan..?” Tanya cemas ku pada Rendi.
“haus..!” jawabnya singkat.
“akan daku belikan minuman dan mempersembahkannya pada engkau wahai sahabatku” Wawan sambil beranjak pergi.
“tunggu Wan..!” Gea memperhentikkan langkah Wawan.
“ada apakah gerangan..?” Tanya heran.
“rambut lu tuh ada apeh..?” sambil mengacak-acak rambut Wawan yang kribo.
    Sebuah dompet tebal berwarna coklat berada di rambut Wawan. Gea membuka dompet itu dihadapan kami, dan sejumlah uang tunai yg sangat melimpah ada dalam dompet tersebut. Nampaknya lelaki tua itu seorang pencuri dan dompet curiannya terjatuh pada rambut Wawan saat kita bertabrakan. Setelah Gea menghitung uang tersebut, ternyata seluruhnya berjumlah satu juta enam ratus ribu rupiah.
“pas..!” ucap Rendi mengejutkan.
“maksud ?” Gea bertanya heran.
“pas dong..! satu jute enem ratus bagi empat, masing-masing dapet empat cepe. Kebetulan gua lagi butuh duit nih. “ jawab Rendi penuh semangat.
“ini kan duit orang Ren, “ Gea membenarkan.
“ alah, ini tu namanye rezeki neng..! kaga bole di tolak, pamali “
“kenape pade diem..? udeh ah, lu pasti pade butuh kan…?” tambah Rendi sambil mengambil uang yang di dalam dompet dan membagikannya masing-masing empat ratus ribu rupiah.
    Rendi pergi dengan uang yang digenggamnya dan pennuh semangat, seakan ia tak menyadari bahwa badannnya sakit karna terinjak massa. Gea pun ikut pergi dan juga membawa uang yang telah dibagikannya oleh Rendi. Tinggallah aku bersama Wawan yang masih belum juga memutuskan.
“mengapa engkau belum juga beranjak pergi Andi ?” Tanya Wawan padaku.
“gua ga tau wan, lu sendiri knape belon pergi?”
“ sesungguhnya diriku membutuhkan uang ini untuk membayar hutang-hutangku di warung yang telah menumpuk, “  jawab Wawan yang juga pergi setelah itu.
Sendirilah aku bersama dompet coklat itu beserta uang tunai didalamnya. Kemudian pergi pulang dengan penuh kebimbangan. Sampai pada rumah gubuk yang berada dipinggir tempat pembuangan sampah yang itu adalah rumahku. Bersandar di tembok halaman rumahku yang hanya berukuran satu meter setengah itu, dan ku kipaskan topi berwarna hijau pudar kesayanganku karna cuaca sangat panas dan tubuhku penuh keringat. Aku tinggal berdua bersama adik lelakiku tanpa ditemani orang tua karna mereka telah tiada.
“eh bang udah pulang lagi, cepet amat” Tanya adikku menghampiri.
“iye, lu kaga sekola..?”
“toni kaga bole sekola sebelum bayar SPP yang udeh nunggak 3 bulan bang,”
    Tersentak aku mendengar adikku mengatakan hal itu, terlintas fikirku pada dompet coklat yang ku genggam. Bagaimana pun aku tak ingin adikku berhenti sekolah seperti abangnya yang hanya tamat Sekolah Dasar saja, aku ingin adikku kelak menjadi orang sukses dan berguna. Sungguh aku terhimpit oleh keadaan yang begitu membuatku tak ada pilihan lain selain memakai uang itu.
    Telah tiga hari lamanya aku tak bertemu dengan Wawan, Rendi maupun Gea. Ku cari mereka dijalanan, namun tak jua ku temukan. Mengamen bukan lagi karirku, kini aku adalah penjual koran. Siang itu aku menjual koran di Jl. Rampes dan saat aku berkeliling menawarkan koran pada orang-orang, suara-suara ribut terdengar dibelakangku.
“buat aku aja..!!” memaksa.
“jangan..!! ini punya orang lain, ga boleh..! udah kita balikin aja ke bapak itu..!” menolak ucapan temannya.
“oiya, ya udah deh, kita balikin yukk..!!” sambil pergi mengejar seorang lelaki tua.
    Dua orang anak itu mengembalikan sebuah dompet kepada pemiliknya. Dengan cepat ingatanku pada dompet coklat hari lalu, sungguh aku tak sanggup menahan air mata saat itu juga. Aku berlari menuju kios koran Bang Mahmud dan menaruh koran-koran yang harus kujual kemudian pergi menuju pasar. Ternyata dugaan ku benar, pasti kutemukan Gea di pasar, ia sedang asyik memukuli preman pasar disana.
“Gea..!!” teriakku.
“andi..?”
Tanpa ku berkata apapun, ku tarik lengannya dan mengajak pergi dari tempat itu. walau sepanjang jalan Gea bertanya mau kemana dan ada apa, aku tak jua menjawabnya. Sampailah aku di Taman Kota, dan kutemukan Rendi bersama wanita nakal sedang bermesraan.
“Rendi…! Ikut gua sekarang…!” sambil kutarik tanggannya.
“apa-apaan nih..? eh gua belom dibayar…!!” protes wanita nakal seksi itu.
“iya apaan sih lu..?! gua lagi enak-enak jg, ganggu aje…!!”
“udeh lu ikut gua sekarang, gua bayar tuh jablay goceng..!”paksaku pada Rendi dan melempar uang pada wanita itu.
“sialan lu maen pergi aje..!! mana dikasih goceng lagi..!! dasar bocah..!” ocehan wanita nakal.
    Langkah kita terhenti di warung nasi, dan terlihat Wawan sedang asyik makan dengan menu yang sangat banyak. Ku gebrakkan meja makan itu hingga Wawan merasa terkejut.
“what happen..? “ ucap Wawan.
“hah..? what happen..? sejak kapan lu ngebacot pake bahase bule..?” Tanya ku heran.
“gaya amat sih si kribo,..!” Gea menambahkan.
    Aku menunjukkan dompet coklat dan menanyakan pada mereka “masih inget lu smua ma ni dompet?”. Dengan sangat santai mereka menjawab “emang knape?”.
“lu tau smua kalau ni dompet bukan punye kite, bukan hak kite, tapi knape kita pake uangnye..? Rendi..! lu pake duit ni buat jablay, Gea pake duit ni buat beli minuman, dan lu Wan..! lu ngakunya buat bayar hutang padahal buat makan doang..! apa lu smua kaga sadar kalau lu smua berubah..? kite udah kaga pernah ngumpul-ngumpul lagi, kaga pernah ngamen lagi, knape cuma karna duit kite jadi buta hah..!!”
Hening, semua terdiam seakan membisu.
“trus kite mesti gimane..?” Rendi bertanya dengan nada lembut tak seperti biasa.
“balikin semua duitnye..! walau dikit, kite mesti jujur tuh duit udeh kite pake..” berusaha mengarahkan.
“kaga ah..! nekad banget lu..! kalau masuk penjara gimane..?” Tolak Gea.
“ini resiko kite, penjare kaga seberape kejam dibanding nerake jahanam..!”
    Kita pun sepakat menemui orang pemilik dompet coklat itu. Tiba di Toko Kue, kami pun dilarang masuk oleh satpam karna mungkin pakaian kita yang sangat lusuh. Aku memberi penjelasan bahwa kedatangan kami kemari untuk bertemu Bapak Gunawan manager toko kue itu, namun ternyata satpam itu tetap mengusir kami hingga emosi Gea memuncak. Wawan dan Rendi mencoba  menghindarkan Gea untuk tidak berkelahi, saat itu sebuah mobil hitam hadir dan membunyikan klakson. Pengemudi mobil itu pun keluar dan bertanya mengapa, dan satpam itu menjawab kami adalah gembel kepada bapak-bapak itu yang ia sebut Bos Gunawam.
“benar bapak ini Bapak Gunawan?” tanyaku pada bapak itu.
“benar saya Gunawan, kenapa..?”
“kami ingin mengembalikan dompet bapak” sambil kuserahkan dompet coklat itu padanya.
“dompetku..? bagaimana bisa berada pada kalian..?” Tanya heran dan mengambil dompetnya.
“sebelumnya kami minta maaf pada bapak karna kami telah memakai separuh uang di dalam dompet itu karna kekhilafan kami, kami pun ikhlas jika bapak akan menghukum kami.”
    Tak ada jawban dari bapak itu, sepertinya kami memang benar-benar akan masuk penjara karna hal ini. Kami dibawa oleh satpam untuk masuk dan duduk di toko kue itu. Tak lama seorang pelayan toko itu mengantarkan kue-kue yang banyak kepada kami. Kami justru bertanya-tanya.
“jangan khawatir, saya tak akan mengantarkanmu pada polisi. Saya justru bangga karna kalian dapat jujur” ucap Bapak Gunawan.


-TAMAT-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar