Akulah wanita munafik, tersenyum dalam kepiluan yg mendalam. Percaya semua akan
baik-baik saja walau hal itu hanyalah angan-angan belaka. Tak ingin membuat
orang-orang sekitarku mengikuti kerapuhan hatiku hanya karna aku menagis. Namun
akupun telah muak dengan segala senyum palsu ini, hidupku seakan dipenuhi
sandiwara.
Aku pula wanita yg lemah, tak dapat melawan walau yg kuhadapi mengundang
amarah. Ingin ku terbebas dari semua kehampaan dan lepaskan dusta. Nyatanya aku
tak berdaya saat mengingat kembali indahnya cinta.
Entah bagaimana aku harus bertindak saat seseorang yg dicinta itu pergi
perlahan meninggalkan segala rasa. Dimana seseorang itu telah sirna dari
genggamanku, akupun hanya dapat mengikhlaskan. Itupun bohong..!! tak ada yg
dapat kuat menahan kepedihan jika kehilangan. Tengah menikmati cinta dan merasa
sangat nyaman dengan seseorang yg dicinta, namun secara mengejutkan semua
direnggut oleh permasalahan hati.
Kesulitan yg ditempuhi adalah diharuskan tegar saat teringat seseorang itu
bukan lagi milikku. Persoalan hati yg sesak sering terjadi saat dimana ku
dipertemukan dengan sesuatu yang dapat mengingatkanku pada penghuni hatiku
dulu.
Tak mungkin paksakan cinta bila hanya dalam satu pihak. Tak mungkin pula
menyalahkan karna bagaimanapun seseorang itu telah ada dalam hatiku. Mengisi
dan berikan cinta walau sesaat.
Kulakukan ini setiap saat aku menangis dalam sepi, mendoakan orang-orang yg
dulu pernah mencintaiku agar mereka dapat bahagia. Cinta tak mungkin ada dapat
terbagi, musnah dan lenyap. Begitupun cintaku pada orang-orang itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar