Kami berempat sekolah di TK dan
SD yang sama, artinya setiap hari kita selalu bermain menikmati indahnya
permainan anak-anak. Aku, Sindy, Via, dan Deni selalu bersama-sama kemanapun
dan dimanapun. Walau Deni anak laki-laki satu-satunya di kelompok kami, namun
ia tak pernah merasa mengeluh ataupun malu karna teman-temannya perempuan.
Justru ia sangat asyik bermain bersama kami, dan kami pun begitu.
Empat tahun lamanya kita bersama, ternyata Deni pindah rumah dan juga pindah
sekolah. Sungguh berat hati rasanya karna ditinggalkan oleh sahabat yang paling
cakep dan selalu menjadi rebutan dari tiga anak perempuan ini. Kami bertiga
mendoakan semoga Deni tetap menjadi anak yang baik, apalagi ia pindah ke
sekolah Madrasah, tentunya akan lebih baik lagi.
Sampai pada kelulusan SDN Cibeureum 7, ternyata kami bertiga memutuskan untuk
satu sekolah lagi yaitu di SMPN 7 Cimahi. Namun saat SMP kami jarang sekali
terlihat bersama karna perbedaan kelas. Terlebih saat kami bertiga mengenal
“cinta”, waktu kami terbagi oleh pasangan masing-masing.
Saat kelas 3 SMP, kami berada pada satu kelas yang sama. Peluang untuk kami
bersama memang besar, namun tak terjadi pada kami. Mungkin karna telah memiliki
teman masing-masing dan sibuk oleh “kekasih”. Masa SMP memang masa dimana kami
mengetahui tentang “cinta”, tak seperti di masa SD dulu. Walau saat SD kami pun
pernah mengalami jatuh cinta, namun sikap kami lebih memilih pada sahabat.
Kami tak satu tujuan lagi dengan memilih sekolah setelah lulus SMP. Memang kami
memilih SMK, namun pilihan kami berbeda-beda. Via memilih di SMK 3, mengambil
jurusan perhotelan. Sindy memilih di SMK 11, dengan jurusan sekertaris.
Sementara aku pilih SMK 2, jurusan multymedia. Akan tetapi, harapanku di SMK 2
itu kandas karna tinggiku kurang mencapai target yg ditentukan oleh sekolah
tersebut. KECEWA dan dendam pada sekolah itu. Hingga akhirnya aku memilih SMA
3, dan justru aku lebih senang sekolah di SMA itu. Bertambah lagi kemungkinan
kami bertiga tak pernah bermain bersama. Namun aku dan Sindy masih sering
berkomunikasi walaupun jarang bertemu.
Hingga kini, aku masih berkomunikasi dengan Sindy namun tidak dengan Via. Entah
mengapa, Via lebih terkesan tak ingin bersama kita. Aku dan Sindy tak pernah
mendapatkan masalah, namun aku dan Via pernah memiliki masalah sampai adanya
pertengkaran. Begitu pula Sindy, ia pun mengaku pernah bermasalah dengan Via.
Berita terakhir mengenai Via adalah putus sekolah karna kelalaiannya dalam
“berpacaran”. Kita yang mengetahui berita tersebut sungguh merasa sedih dan
rasa tak percaya. Via yang cantik, manis, sampai sering dijuluki “aura kasih”
oleh guru-guru karna parasnya ternyata hancur oleh berita tersebut. Ingin
rasanya kita menemui Via, namun ia tak lagi tinggal dirumahnya melainkan
dikeluarga suaminya. Lagi pula kami merasa ia takkan pernah mau menemui kita
berdua.
Dahulu tiga anak perempuan dan satu anak laki-laki bersahabat baik dan mengucap
janji bahwa “kelak nanti kita tetap bersahabat dan kesuksesan akan lah kita
genggam”. Tinggallah aku dan Sindy yang bertahan dalam persahabatan ini. Semoga
kita akan tetap menjadikan janji itu sebagai semangat kita hingga akhirnya
nanti kesuksesan itu benar-benar kita raih. Tak luput kita mendoakan kalian
berdua untuk selalu bahagia dan tetap tersenyum dalam menghadapi setiap
tantangan yang diberikan illahi.
_SAHABAT_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar