I.
Pembicaraan tentang kematian bukan sesuatu yang
menyenangkan. Namun manusia bahkan ingin hidup seribu tahun
lagi. Ini, tentu saja bukan hanya ucapan Chairil Anwar, tetapi Al-Quran
pun melukiskan keinginan sekelompok manusia untuk hidup
selama itu (dalam surat Al Baqarah [2]: 96). Iblis berhasil merayu
Adam dan Hawa melalui
"pintu" keinginan untuk
hidup kekal selama-lamanya. #sumber dari
http://luk.staff.ugm.ac.id/kmi/islam/Quraish/Wawasan/Kematian1.html
II.
1. Kematian
bersifat memaksa dan siap menghampiri manusia walaupun kita berusahamenghindarkan resiko-resiko kematian.
2. Kematian akan mengejar siapapun meskipun
ia berlindung di balik benteng yang kokoh atau berlindung di balik teknologi
kedokteran yang canggih serta ratusan dokter terbaik yang ada di muka bumi ini.
3. Kematian akan mengejar siapapun walaupun ia
lari menghindar.
4. Kematian datang secara tiba-tiba.
5. Kematian telah ditentukan waktunya, tidak
dapat ditunda atau dipercepat #sumber dari
http://madrasahmassahar.blogspot.com/2010/04/kematian-menurut-al-quran-dan-hadits.html
Menurut sumber-sumber yg telah ku cari ternyata kematian memang bukanlah
pilihan setiap manusia, namun kematian adalah perintah dari Yang Maha Kuasa.
Lebaran Idul Fitri 1432 H kemarin tepatnya pada tanggal 31 Agustus 2011 itu
shalat ID ku dengan hati yang sesak. Entah mengapa aku rasa shalat ID tahun ini
adalah shalat ID ku yang perdana walaupun umurku telah 17 thn, shalat ID tahun
inilah aku benar-benar melaksanakan dengan kekhusuan yang tinggi.
Siangnya, setelah ku meminta maaf kepada keluarga dan tetangga-tetangga
dirumah, aku diajak oleh Ayah ke rumah keluarga di Cimahi dan menemani Ayahku
ke Tempat Pemakaman Umum disana bersama keluargaku tersebut. Ayahku memimpin
doa didepan makam kakak dari nenekku. Biasanya aku mengikuti doa bersama
mereka, namun hari itu aku sama sekali tak memperhatikan. Aku justru melihat
sekelilingku, inilah Tempat Pemakaman Umum :
- Saat hari
raya Idul Fitri, Tempat Pemakaman Umum mendadak jadi sangat ramai. Banyak
orang-orang yang hadir kesana untuk mendoakan keluarganya yang telah
tiada. HANYA PADA SAAT HARI ITU
- Pemakaman
Umum seolah menjadi pasar yang dipenuhi pedagang-pedagang seperti makanan
atau bahkan ada pedagang yang menjual mainan anak-anak. HARI ITU JUSTRU
DIMANFAATKAN OLEH PARA PEDAGANG
- Penjaga
ataupun pengurus Tempat Pemakaman Umum berlomba-lomba mencari uang dari
pengunjung dengan cara mendadak membersihkan makam yang mereka cari, dan
memaksa meminta uang dengan alasan “hari raya pak, thr nya”. MEREKA TAK
TULUS MEMBANTU
- Orang-orang
yang hadir disana tak semua berdoa melainkan hanya berdiam saja,
mengobrol, dan anak-anak kecil rewel meminta dibelikan mainan. HANYA HADIR
SEBAGAI SIMBOL SAJA, TAK ADA KESERIUSAN
Begitulah
suasana Tempat Pemakaman Umum saat Hari Raya Idul Fitri. Esoknya, aku pergi
mudik bersama keluargaku ke Tasik tempat Ayahku lahir. Disana pun aku kembali
menemani Ayahku ke makam nenekku. Kini suasana pemakaman sangat jauh berbeda
dengan yg kutemui di Tempat Pemakaman sebelumnya. Karna memang makam nenekku
bukan dimakamkan di tempat pemakaman umum, melainkan pemakaman kampung yg tak
ramai bahkan sepi karna memang pemakaman disana hanya sedikit saja. Tak ada pedagang,
dan tak ada pengurus.
Aku
sempat menangis saat itu juga, melihat pemakaman yang sepi itu. Ayahku berkata,
“makam ini yang mengurusi itu keluarga masing-masing, bukan orang-orang
pengurus makam seperti yg kita temui di pemakaman umum.” Terlintas banyak
pertanyaanku :
- Kapankah
mati itu menghadiri dan menggantikan hidupku ?
- Dalam
keadaan apakah aku mati ?
- Dimanakah
aku dimakamkan ?
- Bagaimanakah
makam tempat peristirahatanku ?
- Akankah
makamku terurus dengan layak ?
- Siapakah
yang akan mengunjungi makamku ?
- Jika
mereka hadir, apakah mereka tulus doakan aku ?
“Semua
tak pernah ada yang mengetahui“

Tidak ada komentar:
Posting Komentar