Senin, 10 September 2012

KEMATIAN


I.            Pembicaraan  tentang kematian bukan  sesuatu  yang  menyenangkan.  Namun  manusia bahkan  ingin hidup seribu tahun lagi. Ini, tentu saja bukan hanya ucapan Chairil Anwar, tetapi Al-Quran  pun  melukiskan keinginan  sekelompok  manusia  untuk hidup selama itu (dalam surat Al Baqarah [2]: 96). Iblis berhasil  merayu  Adam  dan Hawa   melalui   "pintu"   keinginan   untuk   hidup   kekal selama-lamanya. #sumber dari http://luk.staff.ugm.ac.id/kmi/islam/Quraish/Wawasan/Kematian1.html

 II.           
1. Kematian bersifat memaksa dan siap menghampiri manusia walaupun kita  berusahamenghindarkan resiko-resiko kematian.
2. Kematian akan mengejar siapapun meskipun ia berlindung di balik benteng yang kokoh atau berlindung di balik teknologi kedokteran yang canggih serta ratusan dokter terbaik yang ada di muka bumi ini.
3. Kematian akan mengejar siapapun walaupun ia lari menghindar.
4. Kematian datang secara tiba-tiba.
5. Kematian telah ditentukan waktunya, tidak dapat ditunda atau dipercepat #sumber dari http://madrasahmassahar.blogspot.com/2010/04/kematian-menurut-al-quran-dan-hadits.html

            Menurut sumber-sumber yg telah ku cari ternyata kematian memang bukanlah pilihan setiap manusia, namun kematian adalah perintah dari Yang Maha Kuasa. Lebaran Idul Fitri 1432 H kemarin tepatnya pada tanggal 31 Agustus 2011 itu shalat ID ku dengan hati yang sesak. Entah mengapa aku rasa shalat ID tahun ini adalah shalat ID ku yang perdana walaupun umurku telah 17 thn, shalat ID tahun inilah aku benar-benar melaksanakan dengan kekhusuan yang tinggi.
            Siangnya, setelah ku meminta maaf kepada keluarga dan tetangga-tetangga dirumah, aku diajak oleh Ayah ke rumah keluarga di Cimahi dan menemani Ayahku ke Tempat Pemakaman Umum disana bersama keluargaku tersebut. Ayahku memimpin doa didepan makam kakak dari nenekku. Biasanya aku mengikuti doa bersama mereka, namun hari itu aku sama sekali tak memperhatikan. Aku justru melihat sekelilingku, inilah Tempat Pemakaman Umum :
  1. Saat hari raya Idul Fitri, Tempat Pemakaman Umum mendadak jadi sangat ramai. Banyak orang-orang yang hadir kesana untuk mendoakan keluarganya yang telah tiada. HANYA PADA SAAT HARI ITU
  2. Pemakaman Umum seolah menjadi pasar yang dipenuhi pedagang-pedagang seperti makanan atau bahkan ada pedagang yang menjual mainan anak-anak. HARI ITU JUSTRU DIMANFAATKAN OLEH PARA PEDAGANG
  3. Penjaga ataupun pengurus Tempat Pemakaman Umum berlomba-lomba mencari uang dari pengunjung dengan cara mendadak membersihkan makam yang mereka cari, dan memaksa meminta uang dengan alasan “hari raya pak, thr nya”. MEREKA TAK TULUS MEMBANTU
  4. Orang-orang yang hadir disana tak semua berdoa melainkan hanya berdiam saja, mengobrol, dan anak-anak kecil rewel meminta dibelikan mainan. HANYA HADIR SEBAGAI SIMBOL SAJA, TAK ADA KESERIUSAN

Begitulah suasana Tempat Pemakaman Umum saat Hari Raya Idul Fitri. Esoknya, aku pergi mudik bersama keluargaku ke Tasik tempat Ayahku lahir. Disana pun aku kembali menemani Ayahku ke makam nenekku. Kini suasana pemakaman sangat jauh berbeda dengan yg kutemui di Tempat Pemakaman sebelumnya. Karna memang makam nenekku bukan dimakamkan di tempat pemakaman umum, melainkan pemakaman kampung yg tak ramai bahkan sepi karna memang pemakaman disana hanya sedikit saja. Tak ada pedagang, dan tak ada pengurus.

Aku sempat menangis saat itu juga, melihat pemakaman yang sepi itu. Ayahku berkata, “makam ini yang mengurusi itu keluarga masing-masing, bukan orang-orang pengurus makam seperti yg kita temui di pemakaman umum.” Terlintas banyak pertanyaanku :
  1. Kapankah mati itu menghadiri dan menggantikan hidupku ?
  2. Dalam keadaan apakah aku mati ?
  3. Dimanakah aku dimakamkan ?
  4. Bagaimanakah makam tempat peristirahatanku ?
  5. Akankah makamku terurus dengan layak ?
  6. Siapakah yang akan mengunjungi makamku ?
  7. Jika mereka hadir, apakah mereka tulus doakan aku ?

“Semua tak pernah ada yang mengetahui“

Tidak ada komentar:

Posting Komentar